Bismillahirohmanirohim…
“Generasi KAMMI adalah Generasi Qur’ani”
Manna Khalil Qattân Mengartikan
bahwa Al Quran adalah firman Allah SWT. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW. dengan berbahasa Arab, tidak ada keraguan padanya, bernilai ibadah dalam
membacanya. Dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.
Pengertian tentang Al Quran yang dikemukakan oleh Manna Khalil Qattân tersebut,
merupakan bentuk penyadaran kepada seluruh umat Islam untuk lebih memahami
eksistensi Al Quran di era globalisasi. Era globalisasi yang ditandai dengan
era perubahan, kemajuan maupun persaingan telah menghantarkan manusia untuk
bersaing di alam arena peningkatan kualitas, loyalitas dan moralitas.
Al-Qur’an merupakan subjek sekaligus
objek. Al-Qur’an merupakan subjek dalam arti dia dapat merubah moralitas
manusia dan menghidupkan jiwa yang mati sehingga menjadi generasi Qurani yang
didambakan. Al-Qur’an merupakan sebagai objek bukan hanya untuk diperlombakan
tetapi dia harus dibumikan, dan upaya untuk mencapai ke arah itu paling tidak
mengamalkan apa yang diperintahkan dalam al-Qur’an.
Ada beberapa cara terbaik untuk membangun generasi Qurani dengan menggunakan
rumus 4 M + 1 A yaitu membaca, menghayati, mengamalkan, dan membumikan Al
Quran.
·
Membaca
Membaca Al Qur’an memiliki nilai ibadah atau dapat menambah pahala bagi
setiap pribadi seorang muslim, yang selalu mencari keridhaan Allah SWT.
(Yabtaghmna Fadlan minallâh wa ridhwanâ). Namun untuk meraih tambahan pahala
tersebut, seorang muslim harus mampu membaca Al Quran dengan baik dan lebih
baik membaca Al Quran dengan baik dimaksud bahwa seorang muslim harus bisa
membaca Al Quran minimal sesuai standard metode Iqra’ yang paling dasar (Iqra’
1, 2, 3, dan 4). Sedangkan maksud membaca Al Quran yang lebih baik, membaca Al
Quran dengan menggunakan metode Tajwid.
Terkait dengan pahala yang diperoleh seseorang ketika
membaca Al Quran, Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Barang siapa yang membaca Al
Quran, maka baginya sepuluh kebaikan, bukan “ALIFLAMMIM” adalah satu huruf,
tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. Hadits Nabi di atas,
membedakan motivasi konstruktif bagi setiap muslim untuk lebih memperbanyak
membaca Al Quran, selain bernilai ibadah, juga dapat menjadi obat penawar bagi
hati seorang muslim yang dirundung kegelisahan menghadapi problematika
kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surat alIsra’ ayat 82 :
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang
yang zalim selain kerugian.”
·
Menghayati
Menghayati dapat diartikan memahami makna terdalam dari Al Quran. Dimulai
dari mengetahui arti ayat yang dibaca, kemudian memahami isi kandungannya.
Dengan mengetahui arti ayat yang dibaca, maka seseorang akan membaca dengan
penuh kekhusu’an. Sebab ia terhanyut dan terikut dalam rangkaian arti ayat-ayat
Al Quran tersebut. Pada akhirnya, menghantarkan seseorang untuk menjadikan Al Quran
bacaan harian dalam mengisi “ruang rindu” kehidupan. Sebaliknya, seseorang yang
tidak mengetahui arti ayat yang sedang dibaca, laksana keledai membawa berbagai
bentuk buku-buku di atas punggungnya. (Kalhimâru yahmi asfârôn) namun tetap
diberi pahala oleh Allah Swt. Adapun memahami isi kandungan Al Quran mengetahui
secara mendasar ilmu tentang Al Quran, baik mengenai ayat-ayat Makkiyah dan
Madaniah, asbab alnuzul, al nasikh wal mansukh dan lain sebagainya. Penguasaan
keilmuan kita tentang Al Quran akan mengokohkan keyakinan kita tentang
kebenaran Al Quran sebagai panduan dalam kehidupan. Namun dalam hal penguasaan
ilmu tentang Al Quran dapat dihitung jari jumlahnya, kendatipun demikian paling
tidak kita mengetahui arti ayat Al Quran yang kita baca.
·
Mengamalkan
Nabi Muhammad SAW. tidak saja memerintahkan kepada umatnya untuk membaca
dan menghayati Al Quran, lebih dari itu Nabi menyuruh kepada umatnya untuk
mengamalkan isi kandungan Al Quran dalam kehidupan. Terkait dengan pengamalan
isi kandungan Al Quran, seorang muslim sejati akan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan kekasihnya (Allah) dari pada orang lain (selainnya). Dengan
demikian, pedagang muslim yang mengamalkan Alquran selalu menjauhi perbuatan
curang dan dzalim. Pemimpin muslim yang mengamalkan Alquran selalu menjauhi
sifat khianat dalam menjalankan agenda pemerintahannya. Bahkan da’i muslim
Qurani akan tetap istiqamah untuk tidak berlaku munafiq dalam menyampaikan
dakwahnya, sehingga Alquran yang dibaca tidak melaknat si pembaca itu sendiri,
Nabi Saw. bersabda : “Betapa banyak pembaca Alquran, sedangkan Alquran itu
sendiri melaknatnya”. (Al Hadits).
·
Membumikan
Membumikan Al Quran merupakan
integrasi dari membaca, menghayati dan mengamalkan Al Quran. Membumikan berarti
adanya kontinuitas untuk mengamalkan sekaligus mensyiarkan Al Quran dalam
kehidupan, baik dengan mengadakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) maupun
Musabaqah ‘Amalul Quran (MAQ). Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) sebagai salah
satu sarana untuk mensyiarkan Islam dan meningkatkan kualitas pengetahuan
generasi muslim tentang Al Quran yang terdiri dari Musabaqah Tilawatil Quran
(MTQ), Musabaqah Fahmil Quran (MFQ), Musabaqah Syarhil Quran (MSQ), Musabah
Khattil Quran (MKQ) dan lain sebagainya. Namun musabaqah yang seyogyanya disosialisasikan
adalah Musabaqah ‘Amalul Quran) (MAQ), yakni perlombaan untuk mengamalkan Al
Quran dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, budaya, politik, ekonomi
maupun teknologi, walaupun selalu dihadapkan dengan pembunuhan dan kurungan
budaya.
Jadi untuk para
sahabat yang merindukan surga, yuk mari kita bangunkan diri kita dari keterninaboboan dan
angan-angan kosong yang selalu bangga dengan berbagai mimpi tentang kebesaran
dan kesombongan menuju “rumah idaman” yang disinari dengan nilai-nilai Al Quran
namun enggan memperbanyak dan memperkencang lagi bacaan Qur’an nya, agar
hidup kita selalu berada pada jalan-Nya dan selalu mendapat keridhoan-Nya serta
bisa menjadi Generasi Qur’ani yang mampu meraih cinta-Nya Illahi. ^_^
Fastabiqul
Khoirot,,, Wallahu’alambisawab.
“Wassalamua’alaikum wr.wb”
